Satu Komputer untuk Interaktifitas Satu Kelas (Lebih Jauh Pemanfaatan TIK di Kelas, Bagian 1)

Satu Komputer untuk Interaktifitas Satu Kelas (Lebih Jauh Pemanfaatan TIK di Kelas, Bagian 1)

“Anak-anakku, kita tahu bahwa besok tanggal 2 Desember kita sudah ujian akhir semester dan materi pelajaran pada semester ini telah Pak Supri sampaikan semua. Oleh sebab itu pagi ini Pak Supri mengajak kalian semua untuk bermain game”. “Yeeeaaah” seluruh isi kelas berteriak girang.

Pada senin pagi (28/11), saya membawa laptop dan LCD proyektor ke kelas untuk bermain game bersama anak-anak. Ini adalah salah satu contoh pemanfaatan komputer untuk kepentingan interaktifitas satu kelas. Game yang saya bawakan adalah Game Jeopardy. Game Jeopardy adalah game yang dikembangkan oleh DBE 2 USAID. Game berisi pernyataan dan pertanyaan ini dibuat di Ms PowerPoint. Adapun cara bermain dari game ini adalah: pertama-tama guru menampilkan sebuah slide yang berisi beberapa kategori pertanyaan. Siswa memilih kategori yang akan dibuka. Setelah dibuka muncul pernyataan (jawaban), selanjutnya kelompok siswa membuat pertanyaan dari pernyataan (jawaban) yang ditampilkan tadi. Singkatnya game ini adalah seperti game cepat tepat, perbedaanya hanya siswa tidak menyampaikan jawaban tetapi siswa membuat pertanyaan dari pernyataan yang ditampilkan. Game ini adalah game rebutan, kelompok siswa yang mengacungkan tangan lebih dahulu, merekalah yang berhak “menjawab” pernyataan yang ditampilkan. Apabila kelompok “menjawab” benar, skor sama dengan skor yang dipilih. Kelompok yang benar “menjawab”, mereka berhak memilih kategori pertanyaan yang akan diperebutkan selanjutnya. Dalam melaksanakan game ini guru bisa dibantu oleh seorang murid untuk menuliskan skor di papan tulis dan menandai kategori yang telah dibuka. Guru memfokuskan diri mengoperasikan computer dan memilih kelompok mana yang berhak menjawab terlebih dahulu.

Di muka telah saya sampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan diatas adalah salah satu contoh pemanfaatan computer untuk interaktifitas satu kelas, artinya satu computer bisa digunakan untuk media interaksi satu kelas. Dalam hal ini guru bertugas sebagai fasilitator. Dalam pemanfaatan satu computer untuk interaktifitas satu kelas ini, selain game Jeopardy kita juga bisa memanfaatkan Ms PowerPoint dalam bentuk media pembelajaran interaktif, game flash atau juga bisa menggunakan game hasil download yang banyak tersedia di internet (yang berbayar maupun yang tidak berbayar). Selamat mencoba.

Bagaimana Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar?

Bagaimana Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar?

Pembaca yang baiks, mohon maaf sudah lama tidak update informasi, hehe. Harap maklum, minggu-minggu ini sedang sibuk mempersiapkan lomba gugus tingkat provinsi. Dalam kurun waktu 3 minggu ini (minggu ke 1 sampai ke 3 bulan November), saya di kelas 2A MIM Karanganyar melaksanakan dua kegiatan sains yang menurut saya patut untuk di share. Yang pertama adalah percobaan tentang tempat hidup hewan dan yang kedua tentang manfaat tumbuhan disekitar kita.

Pada kegiatan yang pertama saya meminta siswa membawa ikan dan garam dari rumah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tempat hidup hewan (dalam hal ini adalah ikan). Pertama-tama saya meminta siswa mengamati perilaku ikan yang dibawa (bagaimana cara ikan itu berenang, bagaimana frekuensi ikan itu membuka mulutnya, dll) dan menulisnya di lembar pengamatan. Kemudian saya meminta siswa menaburkan garam sedikit demi sedikit ke dalam air. Siswa saya minta untuk mengamati perilaku ikan setelah air diberi garam. Selanjutnya kami laksanakan diskusi.

Kegiatan yang kedua adalah mengidentifikasi tanaman obat beserta kegunaannya. Pada kegiatan yang kedua ini, saya meminta siswa membawa satu paket bumbu dapur (jahe, sereh, kunyit, lengkuas, dll) dan menanyakan manfaat masing-masing bahan kepada orang tua mereka. Sesampainya di sekolah saya meminta siswa melengkapi lembar kerja yang berisi kolom: nama bahan, manfaat dan potongan bahan.

Dua kegiatan diatas saya laksanakan pada saat mata pelajaran sains. Sebenarnya bagaimana mengajarkan sains di sekolah dasar?

Pembelajaran IPA sebagai media pengembangan potensi siswa sekolah dasar didasarkan pada karakteristik psikologis anak; memberikan kesenangan bermain dan kepuasan intelektual bagi mereka dalam membongkar misteri, seluk beluk dan teka-teki fenomena alam di sekitar dirinya; Read the rest of this entry

“Ayo Tanya Mbah Google”

“Ayo Tanya Mbah Google”

“Pak Supri, bagaimana dengan pertumbuhan biji tanaman jagung? Apakah tunas pada biji jagung akan muncul pada hari kedua setelah ditanam sama seperti apa yang terjadi pada pertumbuhan biji kacang hijau yang telah kita amati minggu lalu?”. Seorang anakku bertanya dalam sebuah diskusi pada mata pelajaran sains beberapa waktu yang lalu di kelas 2A MIM Karanganyar.

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sebagai guru kelas (yang mempunyai banyak kekurangan) merasa terpojokkan karena saya merasa tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menutupi kekurangan saya tersebut di depan anak-anak, sejurus kemudian saya langsung berkata “bagaimana kalau kita tanya kepada “Mbah Google”?. Tidak selang beberapa detik saya bisa menunjukkan kepada anak keterangan berikut gambar hasil browsing saya tersebut di depan kelas.

Kejadian seperti diatas mungkin pernah kita alami (sebagai pendidik). Murid kita bertanya sesuatu hal kepada kita sedangkan kita belum tahu tentang jawabannya. Apa yang Anda lakukan? Inilah mungkin satu dari manfaat dari internet masuk sekolah.

Internet mempermudah kita untuk mengakses sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Dengan internet, kita dapat mengakses jutaan sumber informasi yang dibutuhkan dengan sangat mudah. Saat ini, di internet cukup banyak website yang menyediakan bahan-bahan yang sangat menarik untuk ditampilkan dan dipergunakan di ruang pembelajaran di kelas kita. Selamat mencoba!

Komputer sebagai Pengganti Papan Tulis (Sebuah Awal Pemanfaatan TIK di Kelas)

Komputer sebagai Pengganti Papan Tulis (Sebuah Awal Pemanfaatan TIK di Kelas)

Sebagai pendidik masa kini (masa dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesatnya) kita dituntut dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dengan sebaik-baiknya untuk mengakomodir kebutuhan siswa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Kita mungkin telah mendengar atau bahkan mungkin telah melaksanakan berbagai kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan computer di dalam kelas kita, namun mungkin juga ada diantara kita masih ada yang belum pernah sekalipun menggunakan computer di kelas meskipun perangkat TIK ini sudah ada di sekolah atau sudah kita punyai. Di beberapa tempat (di Indonesia), pemanfaatan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan, seringkali hanya digunakan untuk membantu kegiatan administrasi di sekolah saja, tak ubahnya menggantikan mesin ketik konvensional. Bahkan banyak pula sekolah-sekolah maju, yang memiliki laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai, hanya memanfaatkan perangkat TIK yang ada untuk mengajarkan keterampilan teknologi informasi saja seperti tak ubahnya seperti kelas kursus komputer pada umumnya.

Oleh karena pada kesempatan ini saya akan mengawali tulisan saya tentang TIK dalam pembelajaran (sebelum kita berbicara tentang pemanfaatan computer di kelas secara lebih jauh) dengan contoh pemanfaatan computer di kelas sebagai pengganti papan tulis. Kita bisa memanfaatkan computer sebagai pengganti papan tulis. Komputer sebagai salah satu contoh alternatif dalam pemilihan media pembelajaran pengganti papan tulis, mampu menampilkan gambar maupun tulisan yang diam dan bergerak serta bersuara yang tentunya akan lebih menarik minat belajar siswa. Komputer ini diharapkan dapat mewakili peranan guru sehingga siswa dapat belajar dan memperoleh informasi dan dapat berkomunikasi secara tidak langsung terhadap materi yang sedang dipelajarinya.

Selain itu, sebenarnya banyak piranti lunak (software) yang telah dibuat yang sangat mendukung untuk media pembelajaran, baik produk lokal maupun produk perusahaan sekelas Microsoft. Kita mengenal Microsoft Encarta Encyclopedia. Selain piranti lunak yang sudah jadi, media komputer juga menyediakan berbagai piranti lunak yang sangat membantu dan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Mulai dari pengolah kata, pengolah data numerik, hingga data visual. Berbagai piranti lunak itu memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan dan membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, menarik, dan menghibur. Macromedia Flash misalnya, menginspirasi guru untuk menggunakan media animasi flash sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dicerna.

Gambaran fasilitas yang disediakan oleh berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang sangat mendukung untuk kegiatan pembelajaran sungguh sangat memberi harapan bagi model pembelajaran yang lebih baik.

Bagaimana Memulainya?

Siapkan computer (laptop), LCD Proyektor dan kabel power. Apabila di sekolah Anda sudah ada ruangan khusus multimedia yang sudah dilengkapi dengan LCD proyektor, Anda tidak perlu membawa (Jawa: ngotong-otong) LCD proyektor ke kelas. Namun apabila belum ada, bukan menjadi masalah membawa LCD proyektor ke dalam kelas Anda. Bila diperlukan, jangan malu meminta tolong rekan guru yang sudah dapat mengoperasikan perangkat yang Anda bawa ke kelas. Selamat mencoba. Anda pasti bisa! Semangat demi majunya pendidikan Indonesia!

Bagaimana Membiasakan -Adab Makan dan Minum- untuk Peserta Didik?

Bagaimana Membiasakan -Adab Makan dan Minum- untuk Peserta Didik?

Bel tanda istirahat berbunyi, anak-anakku kelas 2A MIM Karanganyar berhamburan keluar kelas. Beberapa anak berjalan menuju kantin, sebagian yang lain menuju perpustakaan, beberapa yang lain ada yang menuju kamar kecil, sebagian yang lain membuka bekal mereka. Sejurus kemudian pandangan saya teruju pada anak tangga menuju halaman belakang dekat kantin madrasah. Ya, di anak tangga penghubung antara ruang rombel kelas 2 dan kelas 3 itu terdapat anak-anak yang sedang menikmati makanan mereka. Subhanalloh, kebersamaan mereka dalam menikmati makanan mereka dan satu lagi (yang mendorong saya untuk mengeluarkan kamera digital untuk mengabadikan kegiatan ini) yaitu mereka makan dan minum sambil duduk. Kita tahu bahwwa pada era sekarang ini, sangatlah sulit ditemui anak-anak atau bahkan orang dewasa mau menjalankan sunah rasulullah yang satu ini. Makan dan minum sambil duduk serta makan dan minum pakai tangan kanan. Ya, inilah salah satu pembiasaan di MI Muhammadiyah Karanganyar. Mengapa “makan dan minum sambil duduk serta makan dan minum pakai tangan kanan” menjadi bagian dari program pembiasaan yang dilaksanakan di MIM Karanganyar? Berikut adalah beberapa riwayat yang mengajarkan tentang adab makan dan minum: Dari Anas dan Qatadah RA, dari Nabi SAW, Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri. Qotadah RA berkata, Bagaimana dengan makan? Beliau menjawab, Itu lebih buruk lagi. (HR. Muslim dan Turmidzi). Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, Jangan kalian minum sambil berdiri! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan! (HR. Muslim).

Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata, Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun Rasulullah SAW pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat! Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis, dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin. Dr. Ibrahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat. Dr. Ibrahim Al-Rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. (Disarikan dari beberapa sumber)

Outing Class Lagi (dan Lagi)

Outing Class Lagi (dan Lagi)

Pada Kamis (19/10) anak-anak kelas 2A MIM Karanganyar kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar kelas (outing class). Kegiatan outing class yang dikemas dalam bentuk field trip ini di diadakan di Taman Satwa Taru Jurug Surakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan siswa dengan sumber belajar yang sebenarnya.  Adapun sumber belajar dimaksud adalah hewan dan tumbuhan koleksi Taman Satwa Taru Jurug Surakarta.


Di Jurug anak-anak melihat secara dekat dan berinteraksi secara langsung dengan sumber belajar. Kita tahu bahwa sudah menjadi tren, kegiatan belajar mengajar luar kelas dijadikan sebagai alternative baru dalam meningkatkan pengetahuan dalam pencapaian kualitas pembelajaran. Alam sebagai media pendidikan adalah suatu sarana efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan pola pikir serta sikap mental positif peserta didik. Konsep belajar dari alam adalah mengamati fenomena secara nyata dari lingkungan dan memanfaatkan apa yang tersedia di alam sebagai sumber belajar.

Apa itu Belajar di Luar Kelas?
Belajar di luar kelas merupakan aktivitas luar sekolah yang berisi kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti: bermain di lingkungan sekolah, taman, perkampungan pertanian/nelayan, berkemah dan kegiatan yang bersifat kepetualangan, serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan (Arief Komarudin, 2007). Pendidikan luar kelas tidak sekedar memindahkan pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan dengan mengajak siswa menyatu dengan alam dan melakukan beberapa aktivitas yang mengarah pada terwujudnya perubahan perilaku siswa terhadap lingkungan melalui tahap-tahap penyadaran, pengertian, perhatian, tanggungjawab dan aksi atau tingkah laku. Aktivitas luar kelas dapat berupa permainan, cerita, olahraga, eksperimen, perlombaan, mengenal kasus-kasus lingkungan di sekitarnya dan diskusi penggalian solusi, aksi lingkungan, dan jelajah lingkungan (Vincencia S, 2006).
Pendidikan luar kelas diartikan sebagai pendidikan yang berlangsung di luar kelas yang melibatkan pengalaman yang membutuhkan partisipasi siswa untuk mengikuti tantangan petualangan yang menjadi dasar dari aktivitas luar kelas seperti hiking, mendaki gunung atau kamping. Pendidikan luar kelas mengandung filosofi, teori dan praktis dari pengalaman dan pendidikan lingkungan.

Apa Tujuan Belajar di Luar Kelas?

Pendidikan luar kelas bertujuan agar siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan dan alam sekitar dan mengetahui pentingnya keterampilan hidup dan pengalaman hidup di lingkungan dan alam sekitar, dan memiliki memiliki apresiasi terhadap lingkungan dan alam sekitar
Pendekatan Out-door learning menggunakan setting alam terbuka sebagai sarana. Proses pembelajaran menggunakan alam sebagai media dipandang sangat efektif dalam knowledge management dimana setiap orang akan dapat merasakan, melihat langsung bahkan dapat melakukannya sendiri, sehingga transfer pengetahuan berdasarkan pengalaman di alam dapat dirasakan, diterjemahkan, dikembangkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Pendekatan ini mengasah aktivitas fisik dan sosial anak dimana anak akan lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan kerjasama antar teman dan kemampuan berkreasi. Aktivitas ini akan memunculkan proses komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, pengambilan keputusan, saling memahami, dan menghargai perbedaan (Disarikan dari beberapa sumber. Bersambung).

Mind Map untuk Melatih Keterampilan Berpikir.

Mind Map untuk Melatih Keterampilan Berpikir.

“Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak. Anak-anakku semua sehaaaat? Papa dan Mama di rumah juga sehat? Alhamdulillah”. Inilah kata-kata yang setiap pagi saya ucapkan untuk mengawali hari-hari bahagia bersama anak-anakku yang cerdas-cerdas di Kelas 2A MIM Karanganyar. Kamis (06/10) pada pelajaran Ilmu Pegetahuan Sosial (IPS) Bab Kegunaan Dokumen, saya mengenalkan bagaimana cara membuat peta konsep .

Peta konsep (mind map) atau ada yang peta pembelajaran adalah cara dinamik untuk menangkap butir-butir pokok informasi yang signifikan. Peta konsep ini memungkinkankan informasi ditujukan dalam cara mirip seperti otak kita berfungsi dalam pelbagi arah secara serempak. Penelitian yang dilakukan oleh Robert Ornstein telah menunjukkan bahwa proses berpikir adalah kombinasi kompleks kata, gambar, skenario, warna dan bahkan suara musik. Dengan demikian, proses menyajikan dan menangkap isi pelajaran dalam peta-peta konsep mendekati operasi alamiah dalam berpikir.Otak dapat dipandang sebagai hutan raya tempat puluhan ribu pohon dengan ratusan ribu cabang besar, jutaan dahan dan miliaran ranting. Peta konsep dibuat dengan cara yang sama seperti halnya informasi disimpan pada cabang-cabang dari tema sentral-meskipun skalanya jauh lebih kecil. Dalam menyusun peta konsep gaya pemrosesan belahan kiri dan belahan kanan otak dilibatkan. Ketika informasi baru diserap dengan menggunakan peta-peta konsep, kapasitas penyimpanan meningkat pula.

Sesungguhnya, bagi kebanyakan orang, gaya tradisional menuliskan gagasan secara linier, di kertas bergaris, dengan menggunakan satu warna, monoton (biasanya biru, hitam, atau abu-abu)  adalah kebiasaan yang sudah sangat dalam tertanam. Karenanya hal tersebut menjadi membosankan. Melatih kembali otak untuk menarik ide-ide yang memancar dari citra dan gambaran pusat dari sebuah pembelajaran sesungguhnya membutuhkan praktik dan kesabaran. Triknya adalah mempraktikan keterampilan hingga menjadi bersifat otomatis. Kita (sebagai pendidik) akan menyaksikan bahwa peta konsep memungkinkan peserta didik mencatat banyak sekali informasi dalam satu halaman dan memperlihatkan hubungan antar berbagai konsep dan ide.

Penggambaran secara visual membantu peserta didik berpikir tentang suatu subyek secara global dan memungkinkan keluwesan (fleksibilitas) pemikiran . Pada sebuah peta, peserta didik secara harfiah dapat melihat struktur subyek yang bersangkutan dalam cara yang mustahil dilakukan dengan kerangka yang linear. Peserta didik dapat melihat tema-tema terpisah namun juga hubungan-hubungan antar tema. Pencatatan secara linear (mencatat di buku tulis) tidak dapat menjaga peserta didik agar tetap sadar akan kompleksitas pemikiran.

Read the rest of this entry

Papan Pajanganku, Penghargaan untuk Anak-Anakku

Papan Pajanganku, Penghargaan untuk Anak-Anakku

Sebuah ruangan tanpa papan informasi terasa gersang. Para siswa ingin sekali memiliki sesuatu yang dapat dilihat pada dinding di sekitarnya. Melalui papan informasi mereka dapat belajar, menemukan sebuah informasi, terinspirasi, dan menambah perasaan nyaman di dalam kelas. Demikian dikatakan oleh Kimberly Steele seorang guru di Abe Hubert Middle School, Garden City, Kansas.

Rasanya memang sangat berasalan. Mengingat kenyataan sekarang banyak sekali ruang-ruang kelas dipenuhi oleh pajangan-pajangan atau hiasan tanpa makna. Kadang “teronggok” sekian tahun tanpa pernah disentuh ataupun berganti wajah maupun pindah tempat. Kita bisa lihat misalnya : hiasan bunga, prakarya siswa (hanya yang paling baik di kelas), rangka manusia, peta, gambar-gambar pahlawan dan sebagainya. Barang-barang tersebut tetap memiliki pesan dan makna. Tetapi sampai kapan barang tersebut layak terpampang di dinding kelas? Seberapa besar manfaat serta maknanya bagi guru dan siswa.

Satu hal yang menarik., yang kini terpampang di berbagai sekolah adalah pajangan hasil karya (istilah lain menyebutnya : display class, bulletin boards). Sebuah sarana belajar berbentuk papan atau gantungan ini kini sering dimanfaatkan oleh guru-guru untuk memajangkan hasil karya atau hasil belajar siswa dalam bentuk produk. Papan display ini sesungguhnya adalah sebuah wadah atau tempat untuk memberikan informasi penting yang dapat menunjang pembelajaran di kelas.

Informasi yang dimaksud dapat berupa portofolio siswa dalam bentuk hasil pekerjaan siswa selama proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu atau juga konsep atau materi yang sedang dipelajari siswa.

TUJUAN. Adapun tujuan dari pajangan hasil karya siswa atau yang lebih sering disebut sebagai display ini adalah: (1) Sebagai tempat menempel berbagai jenis hasil pekerjaan atau karya siswa, (2) Sebagai bentuk penghargaan atas upaya yang telah dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan, (3) Meningkatkan motivasi siswa, karena betapapun kualitas kerja yang dihasilkan akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk dapat dipajang, (4) Memberikan informasi, baik yang bersifat umum, seperti poster atau slogan, maupun yang terkait dengan pembelajaran, seperti bagan/chart/grafik, langkah kerja/rumus, dan sebagainya, (5) Sebagai hiasan yang dapat memperindah suasana kelas, (6) Sebagai bahan evaluasi bagi guru dan siswa serta orang tua melalui tampilan/pajangan yang tertera pada papan display. Misalnya bagi guru, melalui pajangan siswa dapat secara langsung melihat kualitas kerja siswa dibandingkan dengan kompetensi yang harus diraihnya, sedangkan bagi siswa, ia dapat mengukur posisi hasil pekerjaannya dibanding dengan teman-teman lainnya. Sementara bagi orang tua, dapat secara langsung pula melihat kemajuan putra/i dalam meningkatkan kualitas kerja, (7) Karena seringkali papan display juga dianggap sebagai semi portofolio, maka display juga bertujuan menampilkan hasil kekayaan kelas yang bersangkutan.

Read the rest of this entry

Sesi Presentasi ‘PBL: Pertumbuhan Pada Hewan’ Berlangsung Sukses

Sesi Presentasi ‘PBL: Pertumbuhan Pada Hewan’ Berlangsung Sukses

Sabtu (08/10), agenda anak-anak kelas 2A adalah presentasi hasil kegiatan belajar mengajar berbasis proyek (project based learning/PBL) dengan tema pertumbuhan pada hewan. Adapun kegiatan PBL ini dimulai Juli yang lalu. Pada saat itu, 40 anak ayam dibagikan kepada anak-anak untuk dipelihara di rumah masing-masing. Selama memelihara ayam di rumah, anak-anak mengadakan pengamatan pertumbuhan dan perkembangan ayam yang dipelihara tersebut.

Dari 40 anak ayam yang dibagikan kepada 40 anak, pada saat presentasi hari sabtu kemarin tersisa 19 ayam yang masih hidup. Bagi anak-anak yang ayamnya mati pada saat pengamatan, mereka membuat laporan sesuai dengan apa yang terjadi dalam bentuk uraian alasan mengapa ayamnya bisa mati.

Kelasku Juara Kebersihan, Alhamdulillah….

Kelasku Juara Kebersihan, Alhamdulillah….

Senin (03/10), saya benar-benar bahagia. Tidak mengira kelas saya akan memenangi lomba kebersihan dan penataan kelas untuk periode penilaian bulan September. Pengumuman tersebut disampaikan setelah upacara bendera hari senin ini. Pengumuman disampaikan oleh penanggung jawab lomba sekaligus waka kesiswaan, Marjiyanti,S.Ag. Saya bersama ketua kelas 2A, ananda Nadhila Putri Utami menerima penghargaan yang langsung diserahkan oleh Bapak Kepala Madrasah, Choirul Anwar,S.Pd,M.Pd. Sebagai tambahan informasi, lomba ini merupakan lomba kebersihan dan penataan kelas yang penilaiannya dilaksanakan selama satu bulan (1-30 September 2011), kelas 2A menyisihkan 20 kelas dari tingkat kelaas 1 sampai dengan tingkat kelas 6.